Memanusiakan Manusia

Orang yang selalu menolong orang lain ternyata adalah orang yang sungkan untuk meminta tolong jika mengalami kesulitan. "Ketahuilah sebaik-baik penolongmu adalah Allah Illahi Rabbi"

Menginjak umur 24 tahun, pembelajaran dalam hidup setiap hari bahkan setiap waktu dapat diambil hikmah di pelbagai keadaan, situasi dan kondisi. Refleksi renungan diri terjadi pada malam hari setelah melakukan aktivitas on duty. 

Tidak lupa belajar mendewasakan diri, melihat segala sesuatu berdasarkan perspektif objektif serta mengesampingkan ego. Lagi-lagi berkaca kepada diri sendiri. Sudahkan berkontribusi untuk kemaslahatan Ummat atau minimal setiap waktu dalam penjagaan Allah semata dalam rangka kebaikan. 

Tulisan ini tidak lain sebagai reminder. Melihat orang hidup memiliki banyak alasan itulah disebut hidup. Manifestasi adanya roh yang hidup dalam jiwa maka jika logika tidak sinkron dengan hati maka yang paling terpenting adalah ridho Allah Azza Wa Jala. 

Tidak perlu menjadi sempurna, cukup menjadi diri sendiri dengan hal-hal baik karena sudah melewati banyak lelah dan hal-hal buruk yang disebut ujian. Maka sejatinya orang beriman itu diuji dalam kenikmatan maupun kesempitan. 

Terlihat banyak sekali ciptaan Allah Azza Wa Jala di 'Ard (indo : Bumi) ini berjalan sesuai dengan ketetapan masing-masing. Sudahkah mentadaburi dan bermuthalaah kepada diri sendiri?

Perihal menghadapi segala sesuati diluar kendali kita, maka sebaik-baik penolong ialah menyerahkan semua kepada sang penentu takdir. Rasanya tidak afdhal jika menyalahkan Tuhan? (Bukankah Tuhan lebih mengetahui segala yang terjadi terlebih dahulu karena sudah ter Nash di kitab dengan tulisan pena kalamullah) 

Kita berhak untuk gagal, berhak mencoba lagi, mengusahakan untuk bermanfaat dan sekali lagi tugas manusia ialah berusaha, berikhtiar dan bertawakal sembari menunggu maksud dari semua yang dilalui ini berujung kepada wujud penghambaan terhadap Allah Azza Wa Jala (tidak lupa Sudahkah bersyukur untuk hal-hal kecil dan semua yang telah diatur oleh sang Maha pemilik kuasa yang Agung). 

Mengembara bagian dari proses menjalani penemuan jati diri. Untuk sebenarnya tujuan hidup itu apa? Terucap jelas saat iftitah. Inna shalati wa nushuki wa mahyahya wa mamati Lillahi Rabbil'alaamiin. 

Proses ujian itu ditunjukkan kepada orang-orang yang beriman. Tidak usah takut, sedih dan overthinking. Bukankah Laa Yukallifullahu Nafsahn Illa Wus'ahaa (Allah tidak akan memberikan ujian melainkan sanggup untuk melaluinya). 

Percayalah setiap hal yang terjadi itu selalu ada pertolongan Allah, Inna maa'al yusri yusro (setiap kesulitan terdapat kemudahan untuk kita melewati nya) adanya pembelajaran sebagai pengingat diri sendiri. 

Bukankah tentang saling menasehati dalam kebaikan dan mengamalkan adalah hal tersulit karena setiap manusia terdapat ego. Mengesampingkan ego mampu menenangkan jiwa. Tapi Allah tidak suka orang yang malas. 

Untuk apa dilahirkan di bumi demi beribadah Hablumminallah dan Hablumminannas. Bermuamalah semata-mata dalam kebaikan.

Apa yang menjadi tulisan ini berasal dari pembelajaran pendewasaan dan mari usahakan hal-hal baik itu^^

Nasrun minallah wa fathun qorieb

(Fathimah Tsabitah Al-Khairiyah) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال